banner 728x90

Gara-gara lahan pabrik kayu, Brigjen Polisi tega penjarakan dua adik kandungnya – LensaIndonesia.com

LENSAINDONESIA.COM: Perwira tinggi Polri berpangkat Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) berinisial SS tega melaporkan dua adiknya kandungnya yakni Yudi Timur (44) warga Desa Kedungguwo, Sukomoro, Magetan, dan Abi Qori (48) warga Perum Delta Sari Indah, Waru, Sidoarjo ke Polres Magetan.
Yudi dan Abi itu dilaporkan terkait kasus penipuan dan penggelapan, oleh HSA, yang merupakan istri sambung Brigjen Pol SS. Laporan itu tertuang dalam nomor LP-B/16/V/2022/ SPKT.SATRESKRIM/POLRES MAGETAN/ POLDA JATIM tertanggal 8 Mei 2022.
Saat ini Yudi dan Abi sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Polres Magetan.
Fauzi Zuhri Wahyupradika, Kuasa Hukum Yudi Timur dan Abi Qori mengungkapkan, pelaporan dan penahanan kedua adik kandung sejak 5 Juli 2022 kemarin itu dianggap sarat dengan intervensi dan terkesan dipaksakan.
Dika menceritakan, kasus itu berawal saat Yudi mencari lokasi untuk membuat pabrik kayu yang akan dijalankan dengan kakaknya, Abi Qori. Saat mendengar adik-adiknya ingin membuat usaha, kakaknya, yakni Brigjen Pol SS tertarik dan akhirnya bergabung.
Mendengar niat dari anak-anaknya, Sarkam (83) ayah Yudi, Abi dan Brigjen Pol SS kemudian membantu meminjamkan tanah SHM Nomor 00797 atas namanya untuk dijadikan lokasi pabrik CV Timur Raya Albasia (TRA) di Desa Kentangan, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan yang bergerak dalam bidang pengolahan kayu.
Diketahui, Yudi mendapat jabatan sebagai direktur utama, Abi sebagai direktur dan SS yang tidak boleh mengisi jabatan dalam struktur perusahaan karena berstatus anggota Polisi aktif, akhirnya menempatkan anaknya yaitu BEP komisaris.
Untuk pengembangan usaha, CV TRA pun mengajukan pinjaman kredit ke Bank BRI Kantor Cabang Magetan sebesar Rp3,2 miliar pada 2017 silam.
“Jaminannya sertifikat tanah milik Sarkam yang dipakai tempat usaha ,” terangnya, Rabu (13/07/2022).
Sebagai orang tua, kata Dika, Sarkam berinisiatif membantu agar bisnis mereka berjalan baik. Awal 2020, saat datang pandemi membuat semua bisnis tidak bisa berkembang. Termasuk CV TRA. Tidak ada kegiatan bisnis dan angsuran kredit mengalami keterlambatan dan macet.
“Saat itulah, SS dan istrinya HSA datang ke Pak Sarkam dan mengatakan keinginannya menebus dua sertifikat yang diagunkan ke bank. Mereka mengatakan hal itu dilakukan agar Sarkam yang sudah usia senja tidak punya beban pikiran hutang. Karena niatnya seperti itu, Pak Sarkam pun akhirnya menyetujui niat keduanya yang akan melunasi utang usaha,” lanjutnya.
Setelah utang dilunasi dan dua sertifikat tersebut diambil, sertifikat rumah pun diserahkan kepada Sarkam. Tapi sertifikat tanah lokasi usaha tetap dibawa Brigjen SS dan HSA.
Namun, setelah itu SS mulai menunjukkan niatnya yang sebenarnya usai melunasi hutang dan menebus sertifikat milik ayahnya itu. Yakni meminta Sarkam untuk menjual perusahaan dan membayar senilai duit yang dilunasi olehnya yakni Rp 3,5 miliar.
“SS dan istrinya ingin mencoret nama kedua adiknya dalam susunan direksi. Caranya Yudi dan Abi dipaksa mengembalikan uang yang digunakan untuk melunasi utang. Besarnya Rp 3,5 miliar. Tapi tidak boleh diangsur. Karena permintaan itu tidak bisa dituruti Yudi dan Abi, kemudian SS dan HSA menawarkan akan memberi kepada Yudi dan Abi Rp 1 miliar. Dengan catatan, keduanya akan kehilangan hak atas tanah seluas 6.000 meter persegi yang nilainya ditaksir seharga Rp 9 miliar,” paparnya.
Terkait kasus yang akhirnya membuat Yudi dan Abi menjadi tersangka dan ditahan itu, Dika menyebut bila sebenarnya tidak ada unsur pidana dalam kasus itu. Sebab, sertifikat sudah dibawa oleh SS dan sang istri HSA. Tetapi, hanya karena kedua adiknya dan sang ayah tidak bisa melunasi hutang itu karena diangsur, malah kedua adik kandungnya yang dijebloskan ke penjara.
Dika menduga, Brigjen Pol SS sengaja menggunakan jabatan jenderal bintang satunya untuk mengintervensi penyidik di kepolisian supaya memproses hukum kasus itu
“Ditambah dengan kekuasaannya sebagai perwira tinggi Polri, semudah itu membuat Kasat Reskrim Polres Magetan jadi melanjutkan proses hukum. Alasannya bahkan tak masuk akal yakni katanya sudah meminta pendapat dua ahli pidana yang tak jelas ini siapa orangnya,” tandasnya.
Dalam menangani kasus ini, Dika sudah meminta pandangan melalui ahli pidana dari Universitas Airlangga Surabaya. Namun, kata Dika, ahli pidana Unair tak bisa membenarkan cara sang Brigjen SS yang tega memenjarakan adiknya, hanya karena tak mau mengganti uang untuk melunasi hutang bank tersebut.
Dika menceritakan, Brigjen SS sempat pulang ke Kedungguwo, Magetan, untuk melakukan mediasi dengan Sarkam terkait masalah itu. Namun, Sarkam makin naik pitam karena kedua adiknya yang turut dihadirkan itu dalam kondisi memakai baju tahanan dan kedua tangannya diborgol.
“Akhirnya mediasi gagal, Pak Sarkam meminta kami untuk melanjutkan proses hukum. Saat ini kami sedang berusaha untuk menemui pejabat di Mabes Polri dan ingin wadul (melaporkan) terkait kasus ini,” pungkasnya.
Sementara Kasat Reskrim Polres Magetan, AKP Rudy Hidajanto saat dikonfirmasi Lensa Indonesia terkait kasus tersebut melalui ponselnya, belum bisa memberikan respon. @wendy




Registration is closed.

source

Momen HUT RI, Air Mata Rosti Simanjuntak Menetes di Kayu Salib Brigadir J: Gak Kuat Mamak Nak – Tribun Medan
Momen HUT RI, Air Mata Rosti Simanjuntak Menetes di Kayu Salib Brigadir J: Gak Kuat Mamak Nak – Tribun Medan
TRIBUN-MEDAN.com – Suasana kemerdekaan di Keluarga Brigadir Yosua Hutabarat atau Briagdir J
Must read×

Top