banner 728x90

Perajin Warangka Keris di Jombang Panen Cuan Saat Malam 1 Suro – detikcom

Tradisi mencuci keris pusaka pada malam satu suro menjadi berkah bagi perajin warangka atau sarung keris di Jombang. Ramainya pesanan membuat omzet mereka naik hingga 4 kali lipat dalam satu pekan terakhir.
Seperti yang dirasakan Fachrur Rohman (29), perajin warangka di Desa Bawangan, Ploso, Jombang. Omzet penjualan warangka buatannya naik hingga 4 kali lipat setiap harinya. Omzetnya dalam satu pekan terakhir pun menembus Rp 7 juta.
“Hari biasa pesanan 1-5 warangka, momen Suroan naik hampir 4 kali lipat. Sehari sampai 15 warangka, baik membuat baru maupun memperbaiki,” kata Rohman kepada wartawan di lokasi, Jumat (29/7/2022).
Menggeluti bisnis warangka sejak 2014, Rohman kini mempunyai 3 karyawan. Bapak anak satu ini menggunakan kayu-kayu langka untuk menjamin kualitas produknya.
Warangka buatan Rohman menggunakan kayu cendana Jawa, NTT, Kupang, kayu setigi, gaharu, nagasari. Kayu-kayu unik itu mempunyai kelebihan masing-masing.
Kayu nagasari mempunyai permukaan bersisik seperti naga. Cendana dan gaharu mengeluarkan aroma wangi yang tahan lama. Sedangkan kayu setigi berkarakter keras dan kuat.
“Kayu-kayu itu saya pilih karena unik, karena digemari orang, hasilnya untuk warangka sangat bagus. Paling sering dipesan warangka gaharu dan cendana,” terangnya.
Rohman menjelaskan warangka buatannya dibanderol dengan harga bervariasi. Sarung keris berbahan kayu gaharu kualitas paling bagus ia patok Rp 2,5 juta. Sedangkan kualitas medium Rp 500-750 ribu. Warangka berbahan kayu nagasari ia jual Rp 350-500 ribu.
“Kalau warangka cendana mulai Rp 300 ribu, Rp 500 ribu sampai Rp 2,5 juta. Paling mahal itu pakai kayu utuh, warangka tanpa sambungan atau iras,” jelasnya.
Sarung keris buatannya, kata Rohman, tak jarang dipesan para pejabat di Jombang menjelang malam satu suro. Pemesan biasa datang membawa keris pusaka atau contoh warangka yang akan dibuat.
Selanjutnya, karyawan Rohman membuat pola pada kayu sesuai model warangka yang dipesan. Yaitu umumnya menggunakan pakem Solo dan Yogyakarta. Kayu lantas dipotong dan disatukan membentuk sarung keris. Terakhir, warangka dihaluskan menggunakan ampelas.
“Pesanan bisa satu hari selesai kalau tidak ada permintaan khusus. Kalau sesuai pakem Solo, Yogyakarta dan pakem umum lainnya, sehari bisa jadi,” tandasnya.

source

Must read×

Top