banner 728x90

Tikus Oligarki di Rumah Bumi Pertiwi – VIVA – VIVA.co.id

VIVA – Penulis Chappy Hakim, mantan KSAU, mengatakan kabar paling mutakhir, Jumat 23 September 2022, KPK menahan Hakim Agung Sudrajad Dimyati.
Hakim Agung Dimyati telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap penanganan perkara Mahkamah Agung.
Lengkap sudah koruptor di Indonesia mulai dari oknum aparat legislatif, eksekutif dan penegak hukum di tataran yang paling Agung.
Itulah yang terjadi di Indonesia, korupsi di segala lini yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Penangkapan seperti ini akhirnya akan berwujud sebagai sebuah konfirmasi belaka.
Indonesia sebenarnya dikenal sebagai negara demokrasi yang keren, minimum dalam arti kebebasan mengemukakan pendapat dan kebebasan persnya yang luar biasa. Jangan ditanya soal kebebasan di panggung media sosial.
Tidak itu saja, Indonesia sudah memperoleh pengakuan global sebagai negara demokrasi terbesar ke 3 di dunia.
Presiden Federal Jerman Christian Wulff saat menyampaikan kuliah umum di Auditorium Terapung Perpustakaan UI Depok pada Kamis 1 Desember 2011, mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan India.
Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia ternyata akan juga dikenal sebagai negara yang menghasilkan banyak koruptor.
Mulai dari pejabat tinggi dalam jajaran legislatif, eksekutif, dan juga di arena pendidikan tinggi dan kalangan penegak hukum: ketua DPR RI, hakim konstitusi, menteri pemuda dan olah raga, ketua DPD, ketua MK, menteri kelautan, rektor universitas dan yang paling mutakhir, hakim agung serta masih banyak lainnya.
Melihat itu semua, maka kesimpulan sederhana yang dapat diperoleh adalah bahwa mereka yang korupsi itu bukan karena kekurangan harta benda, tetapi lebih kepada sifat serakah dan moral yang rendah.
Celakanya lagi beredar berita bahwa para koruptor kelas berat itu masih memiliki kemampuan untuk memperoleh banyak fasilitas mewah di dalam penjara plus keringanan hukuman.
Lebih celaka lagi keringanan hukuman bagi para koruptor yang banyak disoroti berbagai pihak ternyata memang demikian ketentuan yang berlaku.
Itu berarti memang hukuman bagi para koruptor tidak mempunyai daya untuk memunculkan efek jera dan juga apalagi efek pencegahan.
Sudah banyak analisis tentang mengapa korupsi tetap saja terjadi di tengah pujian yang membahana bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
Tidak peduli apakah ada hubungannya demokrasi dengan korupsi, akan tetapi realitanya negeri dengan gelar negara ke 3 demokrasi terbesar di dunia cukup produktif menghasilkan koruptor.
Sebenarnya korupsi memang akan berkembang luas di negeri yang tingkat disiplinnya lemah. Disiplin sebuah negeri dengan mudah tercermin dengan terang benderang pada kondisi lalu lintasnya sehari-hari.
Lalu lintas yang semrawut adalah gambaran jelas tidak adanya kesadaran dalam disiplin masyarakatnya. Lampu merah diterabas, busway dengan mudahnya diterobos, berhenti seenaknya di tengah jalan.
Belum lagi sepeda motor yang dengan seenaknya melawan arus, sementara bila ditegur maka mereka murka bersama teman-temannya memaki-maki penegurnya.
Lebih hebat lagi ada kelompok tertentu memiliki privilege untuk dengan mudah menembus kemacetan lalu lintas dengan cara menggunakan “ngoeng ngoeng” membuka jalan. Sebuah hak istimewa yang biasanya hanya dimiliki ambulans dan pemadam kebakaran.
Ajakan untuk menggelorakan gerakan disiplin nasional minimal akan memberikan harapan besar untuk memperbaiki negeri, terutama dalam soal “salah urus” yang berbuah koruptor di segala lini.
Rumah Ibu Pertiwi
Katakan seorang ibu Pertiwi anaknya banyak 270 juta orang. Mau bikin rumah, pondasinya yang model apa?
Model batu kapur seperti di Bali. Di sana batas bangunan 3 lantai 10 meter tidak bisa melebihi pohon kelapa.
Pondasi begini bisa doyong.
Atau model Bangladesh tanah rawa ditanam seribu bambu untuk penguatan tanah rawa. Bambu pun punya usia pakai. Setelahnya 50 tahun pondasinya becek.
Atau model bangunan rumah mezanine, tidak perlu pondasi, Cukup seperti rumah-rumah di kalimantan. Rumah panggung, mencegah air rob.
Pondasi begitu bisa untuk atap seng.
Sekarang Bangunan istana ibu Pertiwi ini merupakan pondasi tiang pancang, pile. Bunyinya berisik jedor-jedor.
Selama pembangunan tiang-tiang pancang ini banyak tikus. Beberapa paket makanan tukang kontraktor dicuri.
Ada tikus gembul makanan 500 triliun. 
Tikus hambalang.
Tikus gas melon, mirip bom LPG 3 Kg.
Tikus ini namanya korupsi.
Lalu apakah gara gara tikus bambu ini kita batalkan tiang pancang pile pondasi rumah demokrasi?
Demokrasi terpimpin sudah makan korban 500.000 tikus.
Demokrasi Pak Harto menghasilkan korupsi bonus kolusi gratis nepotisme.
Demokrasi Pak Bambang Y menghasilkan say no darling koruptor si cantik A dan si ganteng Menteri cakep dan olah raga serta abang betawi caem A bersangkutan dengan Datuk Nazarudin. Paket komplit Mega Tambal Hambalang.
Berbagai macam pendapat dan propaganda machine paling idaman adalah pondasi sosialis. Yang ditunjukkan Swedia padahal maksudnya Venezuela. Bangkrut.
Ada idola khalifah syariah ala Afghan, Palistina, Iran, Irak semuanya remuk.
Ada yang memimpikan negara agama, persis Ayatullah. Waduh.
Lagi pula kan mayoritas kita muslim. Ya Betul, di Somalia pun 99% muslim pecah jadi dua.
Ada yang suka dengan Putin dan Prabowo seolah-olah bakal terpimpin. Saat disuruh wajib militer, sekarang warganya kabur.
Yang repot adalah makanan kita dicuri mereka tikus bambu.
Lo Pak… Sekarang ada tikus oligarki?
Ya Betul
Apakah tiang pancang pile pondasi rumah demokrasi yang kokoh bagi 270 juta penduduk Indonesia ini menjadi tidak penting. Apa mau dibikin Otokrasi, otomatis, otoremuk, otochaos, otohancur, lebur menjadi bubur?
Tentu tidak
Tiang pancang pile pondasi rumah demokrasi Indonesia pertiwi ini akan menjadi keajaiban. Keajaiban yang dicita oleh bapak kita Kanjeng Sultan Agung. Dan penerusnya Kanjeng Pangeran Diponegoro. Serta Pak Dirman dan Pak Nasution
 

source

Must read×

Top